Kamis, 26 Januari 2017

CHAPTER 1

                Hujan turun dengan derasnya. Namun setiap kegiatan di Amemachi terus berlangsung. Kota kecil itu memang dikenal dengan curah hujan yang tinggi, matahari pun terkadang enggan mampir. Semester baru sekolah pun dimulai, seluruh siswa tentu saja membawa payung dan jas hujan untuk melindungi diri dari air hujan.
            “Waah, kalian lihat ramalan cuaca hari ini? Aku ngga sempat nih!”
            “Kamu ngga perlu melihat ramalan cuaca, kita akan terus hujan sepanjang hari, sepanjang minggu!”
            Terdengar obrolan anak-anak remaja yang tentunya mengeluhkan cuaca. Jika cuaca cerah, anak-anak remaja di kota Amemachi akan sangat berbahagia dan kota akan ramai dengan mereka yang ingin menikmati hari cerah.
            Hari itu turun hujan deras sejak pagi, Kurosawa Hanae terlambat bangun untuk menghadiri upacara penyambutan semester baru di sekolahnya. Tahun itu, Hanae berada di kelas dua tingkat SMA. Dengan buru-buru tanpa sarapan pun, Hanae memakai jas hujan, dan berlari secepat yang ia bisa menuju sekolah, yang untungnya tidak terlalu jauh dari rumahnya. “Aah! Kenapa aku bisa ketiduran lagi? Aku sudah pasang tiga jam weker!” ujarnya sambil berlari.
            Untungnya, Hanae sampai tepat waktu sebelum gerbang sekolah ditutup. “Hanae-chan! Kamu darimana saja? Untung saja kamu sempat masuk gerbang sebelum ditutup!” Tanya Yuu, teman baik Hanae. “A-aku.. Aku ketiduran” balas Hanae tersengal. Hanae pun melepaskan jas hujan dan menggantungnya. “Kamu ini memang ya, kalau tidur seperti babi! Susah sekali bangunnya. Untung saja rumahmu dekat sekolah kita, kalau tidak bagaimana?” omel Yuu sambil menarik Hanae yang tersenyum lebar.
            Sesampainya di hall indoor milik Amemachi Koukou, Hanae dan Yuu segera masuk dalam barisan angkatan tahun kedua.
            “Hanae, kamu tahu ngga?”
            “Ngga”
            “Ih! Aku belum bilang apa-apa!”
            “Maaf-maaf, tahu soal apa?”
            Dengan mata yang cukup serius, “Kita…beda kelas.” Ujar Yuu dengan mimik sedih. “HEE? Ah! Aku padahal sangat berharap kita sekelas lagi, Yuu. Aku bisa minta ganti kelas gak ya?” gerutu Hanae. Yuu dan Hanae memang sudah berteman dekat sejak SMP, dimana mereka pertama kali berkenalan. Yamamoto Yuu memiliki tubuh yang ramping dengan rambut hitam pekat. Serta kepribadian yang teguh dan feminim membuatnya sangat cocok dengan Hanae yang sangat apa adanya dan tidak terlalu mementingkan penampilan. Kecocokan mereka tidak hanya dalam masalah kepribadian, namun keduanya memiliki kepintaran yang cukup setara membuat mereka sangat senang bersaing.
            Setelah upacara penyambutan semester baru selesai, Hanae dan Yuu menuju papan pengumuman. Meskipun Yuu telah melihat bahwa tahun ini ia berada di kelas 2-1 dan Hanae di 2-2, namun Hanae masih ingin melihat dengan siapa saja ia akan menjalani setahun kedepan.
            “Yuu, di kelasmu ada anak baru tidak?”
            “Sepertinya tidak ada. Kalau kamu?”
            “Sepertinya ada, laki-laki? Namanya… Takahashi Shinichi.” Ujar Hanae sambil membaca namanya. “Wah ada anak laki-laki tambahan di kelasmu! Siapa tahu nanti kalian bisa bersama!” Ujar Yuu dengan menggebu-gebu. Yuu memang memiliki fantasi akan cerita cinta anak remaja. Ia memiliki satu ruangan membaca khusus manga maupun novel romantis. “Aku sudah banyak membaca novel romantis untuk mengetahui kemana arahnya ini semua! Hanae kalau ada apa-apa dengan Shinichi-kun kamu harus memberitahuku!” desak Yuu sambil mengguncang-guncang bahu Hanae dan mendekatkan wajahnya pada wajah Hanae.
            Dengan muka datar karena sudah mengetahui sahabatnya yang satu ini, Hanae mendorong dahi Yuu dengan jarinya dan menjauhkan wajah Yuu darinya. “Yuu, justru kamu terlalu banyak membaca, dia hanya murid pindahan, oke? Kami tidak akan menjadi sesuatu seperti yang kamu bayangkan” Ucap Hanae sambil berjalan menuju kelas dan meninggalkan Yuu yang masih berapi-api dengan fantasinya. “Hanae! Jangan tinggalkan aku!”
            Yuu segera menyusul Hanae, merekapun membicarakan liburan semesteran yang telah mereka habiskan bersama. Hanae mengambil sebuah pekerjaan paruh waktu di sebuah minimarket pada jam kerja malam sedangkan Yuu sudah tidak lagi bekerja paruh waktu mengigat keluarga Yuu sangat berkecukupan.
            Sesampainya di depan ruangan 2-2, Hanae memasuki kelas. “Selamat pagi!” Salam Hanae dengan semangat sambil membuka pintu. Ternyata di dalam kelas sangat sepi. Hanya ada satu orang lelaki yang tidak diketahuinya. “Eh? Aku salah kelas ya? Sepertinya tidak?” ujarnya sambil melirik kembali papan kelas. Laki-laki yang tidak diketahuinya itu seharusnya Takahashi Shinichi, murid baru yang ia bahas tadi dengan Yuu. Namun murid baru itu hanya menundukkan kepalanya di meja, bergeming. Bahkan setelah Hanae mengucapkan salam dengan cukup keraspun, ia masih bergeming.
            “Anu, Takahashi Shinichi-kun?” panggil Hanae dengan ragu sambil mendekatinya. Ketika Hanae akan menyentuh pundak Takahashi, secara mendadak, seseorang membuka pintu dengan keras, “Hey! Hanae-chan? Kita diminta berkumpul sebentar di kantin oleh Himiko-Sensei,” Masih dengan keadaan kaget, Hanae membalas “Ah, Suzuki, kau mengagetkanku saja! Tapi pantas saja tidak ada seorangpun di kelas, ternyata ke kantin semua ya?”
            Setelah Suzuki berlalu, Hanae masih berpikir untuk membangunkan murid baru ini, mungkin saja ia tertidur ketika menunggu anak-anak yang lainnya. Secara perlahan, Hanae mengguncang pundaknya, “Ano…” sambil ucapnya pelan. Namun ia masih bergeming. Ya sudahlah, aku ke kantin saja pikir Hanae dalam hati. Hanaepun membalik badan dan siap berjalan, ketika secara tiba-tiba ada tangan yang meraih tangan Hanae.
            “Ehhh?” Ujarnya kaget dan secara refleks berusaha melepaskan tangan tersebut. Itu adalah tangan Takahashi Shinichi. Shinichi mendongak, “Halo,” sapanya sambil tersenyum tidak wajar. “Salam kenal, namaku Takahashi Shinichi, panggil saja Shinichi,” lanjutnya memperkenalkan diri.
            “Astaga, kau benar-benar menggagetkanku! Aku tadi sudah berusaha membangunkanmu tapi, tapi kau tidak bangun. Namaku Kurosawa Hanae, salam kenal juga. Ayo! Kita tidak ada waktu, ayo kita ke kantin. Himiko-sensei ingin kita berkumpul disana,” jelas Hanae dalam satu tarikan nafas. Dengan wajah bingung, Shinichi bertanya, “Himiko-sensei? Siapa?”
            “Wali kelas kita! Sudah jangan banyak bertanya, kita sudah telat, ayo bangun!” ujar Hanae sambil menarik lengan Shinichi sampai ia bangun, “Aku memang sering bangun terlambat tapi tidak kusangka orang ini lebih hebat lagi, tidur di kelas dan susah bangun,” gerutunya pelan pada diri sendiri. Di belakang pundak Hanae, bibir Shinichi melengkung membentuk senyuman.
            Sesampainya mereka di kantin, terlihat segerombolan anak-anak kelasnya yang sedang duduk di kantin dan menunggu mereka. “Hanae dan anak baru! Kami sudah menunggu kalian, ayo duduk,” ujar Asako sambil menepuk-nepuk bangku di sampingnya. Hanae dan Shinichi pun duduk.
            “Wah, aku penasaran apa yang ingin Himiko-sensei bicarakan! Di kelas sensei memang sangat menyenangkan, tapi kali ini berbeda, dia meminta kita untuk berkumpul di kantin di hari pertama masuk,” ujar Asako dengan cepat. Sambil memikirkannya, Hanae menjawab, “Benar juga, apa karena Himiko-sensei ingin membahas mengenai itu?”
            “Itu? Itu apa?” Tanya Shinichi yang mendengarkan pembicaraan mereka. “Hee, kamu Shinichi ya, perkenalkan dulu, namaku Nishimura Asako. Dan mengenai itu yang kami bahas adalah belakangan ini ada satu dua anak remaja yang hilang, kemungkinan adalah penculikan tapi penculik tidak meminta tebusan apapun! Jadi aku ragu kalau ini adalah sebuah penculikan,” jelas Asako dengan bersemangat.
            “Penculikan?” Ucap Shinichi dengan alis terangkat sebelah.
            “Masih sebuah dugaan, dan sepertinya selalu terjadi ketika hujan. Oleh karena itu, kami diminta untuk tidak kemana-mana sendirian,” jelas Hanae. Menurut Hanae, memang sedikit aneh jika sebuah peculikan tidak menuntut uang tebusan. Namun anak-anak yang diculikpun belum ada kabar sama sekali, mungkinkah sebuah pembunuhan? Tapi apa motifnya? Hanae merinding dengan pemikirannya sendiri.
            Shinichi terlihat diam memikirkan masalah penculikan yang disebut oleh Asako, sedangkan Asako terlihat menggebu-gebu menjelaskan teori-teori yang ia simpulkan sendiri. Tidak berapa lama kemudian, Himiko-sensei datang dan meminta para murid untuk berkumpul lebih dekat.
            “Selamat pagi, dan selamat sudah menjalani satu tahun pertama kalian sebagai murid SMA. Mendebarkan sekali masa-masa SMA itu! Nikmatilah! Dan kebetulan, kita kedatangan teman tambahan. Takahashi Shinichi, silahkan maju dan memperkenalkan diri terlebih dahulu,” sambut Himiko-sensei dengan ceria seperti biasanya.
            Shinichi pun berdiri dari tempat duduknya dan menuju ke depan, di samping Himiko-sensei. “Panggil saja Shinichi, mohon bantuannya” ujar Shinichi singkat sambil membungkukkan badannya. Setelah memperkenalkan diripun, Shinichi dipersilahkan untuk kembali duduk oleh Himiko-sensei.
            “Wah, perkenalanmu singkat sekali, Takahashi-kun. Tapi tidak apa, kalian masih memiliki satu tahu- tidak. Dua tahun untuk saling mengenal satu sama lain. Gunakan waktu kalian untuk belajar dan carilah pacar selama kalian masih di bangku SMA!” Himiko-sensei terus memberikan ucapan-ucapan semangat sampai pada akhirnya, “Himiko-sensei,” Asako mengangkat tangannya.
            “Ya, Nishimura-san?”
            “Sensei, apa yang sebenarnya ingin sensei sampaikan pada kami? Jarang-jarang sekali sensei meminta kami untuk berkumpul di kantin pada hari pertama,” ujar Asako bersemangat. Terdengar bisikan-bisikan setuju dari para murid lainnya. Himiko-sensei menggaruk tengkuknya sambil tersenyum seperti seseorang yang baru saja ketahuan berbohong. “Baiklah, kalian memang sangat cerdik. Jadi, seperti yang kalian ketahui sendiri bahwa belakangan ini terjadi penculikan anak-anak remaja seusia kalian, dan yang lebih parahnya tidak satupun dari dua kasus tersebut yang terpecahkan hingga sekarang. Sensei hanya ingin agar kalian lebih berhati-hati ketika pulang sekolah atau pergi kemanapun. Tolong usahakan agar kalian dapat pergi kemanapun berdua atau bertiga.” Ujar Himiko-sensei dengan suara yang berwibawa.
            Suasanapun berubah menjadi sedikit sunyi, sampai Suzuki mengangkat tangannya. “Ya, Fukuda-san?” sahut Himiko-sensei. “Err, Sensei. Apa sensei mengetahui kira-kira apa motif dari penculik? Aku dengar dari Asako kalau penculiknya tidak meminta uang tebusan. Sedangkan polisi sama sekali tidak memiliki petunjuk mengenai apapun. Kemudian yang membuatku bingung, apa yang menjadi dasar dari para polisi untuk menyimpulkan bahwa kejadian ini adalah penculikan?” Suzuki memang dapat menganilisis sesuatu dengan lebih mendalam dibanding anak seumurannya.
            Mendengar apa yang ditanyakan oleh Suzuki membuat Himiko-sensei terdiam. “Sebenarnya sensei tidak mengetahui banyak mengenai penculikan itu, hanya saya dari apa yang sensei ketahui mengenai “penculikan” itu memang tidak ada surat mengenai uang tebusan maupun telepon untuk memintanya. Fukuda-san mungkin kau bisa jadi seorang detektif jika sudah lulus nanti, instingmu untuk menganalisis lumayan bagus,” ujar Himiko-sensei. Suzuki pun terlihat nyengir saja sedangkan Asako memicingkan matanya ke arah Suzuki dengan jengkel.
            Setelah percakapan itu, anak-anak pun membagi berbagai teori mereka mengenai kasus penculikan tersebut. Asako lah yang paling menggebu-gebu oleh berbagai teorinya. Hanae hanya melihat teman-temannya sambil tersebut, melihat mereka begitu bersemangat di hari pertama sekolah. Hanae berpikir bahwa Himiko-sensei hanya mengangkat kasus ini untuk mencairkan suasana di hari pertama saja.
            “Kurasa Kacamata-Sensei hanya membahas ini untuk mencairkan suasana,” ujar Shinichi sambil menopang dagunya dengan tangannya dan menghadapkan tubuhnya ke arah Hanae. “Eh? Kau juga berpikir begitu? Tapi teman-teman terlihat sangat antusias, jadi kurasa tidak apa,” Ujar Hanae sambil tersenyum simpul.
            “Jika sudah begini, bukannya lebih baik jika kita juga ngobrol? Kulihat kau hanya memperhatikan teman-temanmu saja”
            “Baiklah, apa yang harus kita bicarakan?”
            Sambil berpura-pura berpikir, Shinichi mendadak meraih dagu Hanae, dan menariknya mendekati wajah Shinichi. “Apa kau memakai kontak lensa?” Tanyanya polos sambil melihat mata Hanae dekat-dekat. Dengan kecepatan super cepat, Hanae langsung menangkis tangan Shinichi dan menjauhkan wajah mereka.
            “Ka-kau ini! Apa-apaan sih! Mengagetkanku saja, kau tidak harus menarikku seperti itu jika hanya ingin menanyakan apa aku memakai kontak lensa,” ujar Hanae dengan wajah merah padam. Hanae tidak pernah berkencan sebelumnya, tidak pernah ada seorangpun yang mendekati Hanae. Shinichi tersenyum, seperti  mengejek. Seolah Shinichi mengetahui bahwa Hanae tidak pernah berkencan sebelumnya.
            “Apa? Apa yang kau lihat? Kau mengejekku ya?” Ujar Hanae secara tiba-tiba menaikkan volume suaranya. Tanpa Hanae sadaripun, suaranya yang cukup besar itu membuat teman-temannya kaget dan menoleh semua kepadanya. “Kurosawa-san, kau baik-baik saja? Wajahmu memerah, apa kau sakit?” Tanya Himiko-sensei dengan wajah khawatir. “Ada apa Hanae-chan? Kau ingin ngajak berantem murid baru? Atau kau akhirnya diajak kencan oleh murid baru?” Goda anak-anak lain.
            “Ehhh? Ti-tidak! Tidak ada apa-apa, maaf.” Ujar Hanae dengan wajah tertunduk. Shinichi yang berada disampingnya ikut menunduk dan berbisik, “Sudah kuduga, kau memang tidak memakai kontak lensa,” Seketika Hanae merasa bahwa lelaki yang disampingnya ini mempermainkannya.
            Tidak lama kemudian, Himiko-sensei meminta semua murid untuk pergi ke kelas dan melanjutkan pelajaran pada jam kedua. Kelas pembukaan oleh Himiko-sensei memang selalu menyenangkan dan membuat anak-anak mengenal satu sama lain lebih cepat dibanding guru lainnya. Maka semuanya pun bangkit berdiri dan berjalan ke kelas sambil berbincang-bincang satu sama lain. “Takahashi-san? Bisa kita bicara sebentar?” ujar Himiko-sensei ketika Shinichi akan bangkit berdiri. “Baik, sensei.”
            Hanae melihat Shinichi dan Himiko-sensei berbincang dan ia pun berlalu. Setelah sampai di kelas, Hanae melihat denah tempat duduk yang diberikan oleh Himiko-sensei, tadi ia tidak sempat melihat karena diminta ke kantin oleh Suzuki. “Wah, Hanae-chan, kamu duduk di baris belakang lagi sepertinya,” ujar Asako sambil merangkul Hanae yang lebih tinggi darinya. “Asako, kamu…. Lebih baik tidak perlu merangkulku. Kasihan kakimu tuh, harus berjinjit seperti itu,” Ujar Hanae sambil menggoda Asako.
            Asako segera melepaskan rangkulannya dan memonyongkan bibirnya. “A-apa sih Hanae-chan! Ah! Aku lihat tadi kamu seperti akan ciuman dengan Shi- Shi- Si murid pindahan itu!” Balas Asako sambil berbicara cukup kencang. Anak-anak yang lain pun heboh dan menyoraki Hanae dengan Shinichi. Padahal, Shinichi tidak ada di dalam kelas saat itu. “Asako! Kamu jangan mengada-ada! Aku tidak berciuman dengan Takahashi-kun!” ujar Hanae membela diri.
            Untung saja Takahashi-kun sedang tidak ada di kelas, aku akan lebih malu lagi jika ada dia. Pikir Hanae dengan perasaan sedikit lega. Kemudian, Hanae segera menuju tempat duduknya di baris kedua paling belakang. Hanae berpikir siapa yang akan duduk dekat dengannya pada satu semester kedepan.

PROLOG

Terkadang, takdir berkata lain ketika kita sudah menemukan kebahagiaan.