Hujan turun dengan derasnya. Namun setiap kegiatan di
Amemachi terus berlangsung. Kota kecil itu memang dikenal dengan curah hujan
yang tinggi, matahari pun terkadang enggan mampir. Semester baru sekolah pun
dimulai, seluruh siswa tentu saja membawa payung dan jas hujan untuk melindungi
diri dari air hujan.
“Waah,
kalian lihat ramalan cuaca hari ini? Aku ngga sempat nih!”
“Kamu
ngga perlu melihat ramalan cuaca, kita akan terus hujan sepanjang hari,
sepanjang minggu!”
Terdengar
obrolan anak-anak remaja yang tentunya mengeluhkan cuaca. Jika cuaca cerah,
anak-anak remaja di kota Amemachi akan sangat berbahagia dan kota akan ramai
dengan mereka yang ingin menikmati hari cerah.
Hari
itu turun hujan deras sejak pagi, Kurosawa Hanae terlambat bangun untuk
menghadiri upacara penyambutan semester baru di sekolahnya. Tahun itu, Hanae
berada di kelas dua tingkat SMA. Dengan buru-buru tanpa sarapan pun, Hanae
memakai jas hujan, dan berlari secepat yang ia bisa menuju sekolah, yang
untungnya tidak terlalu jauh dari rumahnya. “Aah! Kenapa aku bisa ketiduran
lagi? Aku sudah pasang tiga jam weker!” ujarnya sambil berlari.
Untungnya,
Hanae sampai tepat waktu sebelum gerbang sekolah ditutup. “Hanae-chan! Kamu
darimana saja? Untung saja kamu sempat masuk gerbang sebelum ditutup!” Tanya Yuu,
teman baik Hanae. “A-aku.. Aku ketiduran” balas Hanae tersengal. Hanae pun
melepaskan jas hujan dan menggantungnya. “Kamu ini memang ya, kalau tidur
seperti babi! Susah sekali bangunnya. Untung saja rumahmu dekat sekolah kita,
kalau tidak bagaimana?” omel Yuu sambil menarik Hanae yang tersenyum lebar.
Sesampainya
di hall indoor milik Amemachi Koukou,
Hanae dan Yuu segera masuk dalam barisan angkatan tahun kedua.
“Hanae,
kamu tahu ngga?”
“Ngga”
“Ih!
Aku belum bilang apa-apa!”
“Maaf-maaf,
tahu soal apa?”
Dengan
mata yang cukup serius, “Kita…beda kelas.” Ujar Yuu dengan mimik sedih. “HEE?
Ah! Aku padahal sangat berharap kita sekelas lagi, Yuu. Aku bisa minta ganti
kelas gak ya?” gerutu Hanae. Yuu dan Hanae memang sudah berteman dekat sejak
SMP, dimana mereka pertama kali berkenalan. Yamamoto Yuu memiliki tubuh yang
ramping dengan rambut hitam pekat. Serta kepribadian yang teguh dan feminim
membuatnya sangat cocok dengan Hanae yang sangat apa adanya dan tidak terlalu
mementingkan penampilan. Kecocokan mereka tidak hanya dalam masalah
kepribadian, namun keduanya memiliki kepintaran yang cukup setara membuat
mereka sangat senang bersaing.
Setelah
upacara penyambutan semester baru selesai, Hanae dan Yuu menuju papan
pengumuman. Meskipun Yuu telah melihat bahwa tahun ini ia berada di kelas 2-1
dan Hanae di 2-2, namun Hanae masih ingin melihat dengan siapa saja ia akan
menjalani setahun kedepan.
“Yuu,
di kelasmu ada anak baru tidak?”
“Sepertinya
tidak ada. Kalau kamu?”
“Sepertinya
ada, laki-laki? Namanya… Takahashi Shinichi.” Ujar Hanae sambil membaca
namanya. “Wah ada anak laki-laki tambahan di kelasmu! Siapa tahu nanti kalian
bisa bersama!” Ujar Yuu dengan menggebu-gebu. Yuu memang memiliki fantasi akan
cerita cinta anak remaja. Ia memiliki satu ruangan membaca khusus manga maupun novel romantis. “Aku sudah
banyak membaca novel romantis untuk mengetahui kemana arahnya ini semua! Hanae
kalau ada apa-apa dengan Shinichi-kun kamu harus memberitahuku!” desak Yuu
sambil mengguncang-guncang bahu Hanae dan mendekatkan wajahnya pada wajah
Hanae.
Dengan
muka datar karena sudah mengetahui sahabatnya yang satu ini, Hanae mendorong
dahi Yuu dengan jarinya dan menjauhkan wajah Yuu darinya. “Yuu, justru kamu
terlalu banyak membaca, dia hanya murid pindahan, oke? Kami tidak akan menjadi
sesuatu seperti yang kamu bayangkan” Ucap Hanae sambil berjalan menuju kelas
dan meninggalkan Yuu yang masih berapi-api dengan fantasinya. “Hanae! Jangan
tinggalkan aku!”
Yuu
segera menyusul Hanae, merekapun membicarakan liburan semesteran yang telah
mereka habiskan bersama. Hanae mengambil sebuah pekerjaan paruh waktu di sebuah
minimarket pada jam kerja malam sedangkan Yuu sudah tidak lagi bekerja paruh
waktu mengigat keluarga Yuu sangat berkecukupan.
Sesampainya
di depan ruangan 2-2, Hanae memasuki kelas. “Selamat pagi!” Salam Hanae dengan
semangat sambil membuka pintu. Ternyata di dalam kelas sangat sepi. Hanya ada
satu orang lelaki yang tidak diketahuinya. “Eh? Aku salah kelas ya? Sepertinya
tidak?” ujarnya sambil melirik kembali papan kelas. Laki-laki yang tidak
diketahuinya itu seharusnya Takahashi Shinichi, murid baru yang ia bahas tadi
dengan Yuu. Namun murid baru itu hanya menundukkan kepalanya di meja,
bergeming. Bahkan setelah Hanae mengucapkan salam dengan cukup keraspun, ia
masih bergeming.
“Anu,
Takahashi Shinichi-kun?” panggil Hanae dengan ragu sambil mendekatinya. Ketika
Hanae akan menyentuh pundak Takahashi, secara mendadak, seseorang membuka pintu
dengan keras, “Hey! Hanae-chan? Kita diminta berkumpul sebentar di kantin oleh
Himiko-Sensei,” Masih dengan keadaan kaget, Hanae membalas “Ah, Suzuki, kau
mengagetkanku saja! Tapi pantas saja tidak ada seorangpun di kelas, ternyata ke
kantin semua ya?”
Setelah
Suzuki berlalu, Hanae masih berpikir untuk membangunkan murid baru ini, mungkin
saja ia tertidur ketika menunggu anak-anak yang lainnya. Secara perlahan, Hanae
mengguncang pundaknya, “Ano…” sambil ucapnya pelan. Namun ia masih bergeming. Ya sudahlah, aku ke kantin saja pikir
Hanae dalam hati. Hanaepun membalik badan dan siap berjalan, ketika secara
tiba-tiba ada tangan yang meraih tangan Hanae.
“Ehhh?”
Ujarnya kaget dan secara refleks berusaha melepaskan tangan tersebut. Itu
adalah tangan Takahashi Shinichi. Shinichi mendongak, “Halo,” sapanya sambil
tersenyum tidak wajar. “Salam kenal, namaku Takahashi Shinichi, panggil saja
Shinichi,” lanjutnya memperkenalkan diri.
“Astaga,
kau benar-benar menggagetkanku! Aku tadi sudah berusaha membangunkanmu tapi,
tapi kau tidak bangun. Namaku Kurosawa Hanae, salam kenal juga. Ayo! Kita tidak
ada waktu, ayo kita ke kantin. Himiko-sensei ingin kita berkumpul disana,”
jelas Hanae dalam satu tarikan nafas. Dengan wajah bingung, Shinichi bertanya,
“Himiko-sensei? Siapa?”
“Wali
kelas kita! Sudah jangan banyak bertanya, kita sudah telat, ayo bangun!” ujar
Hanae sambil menarik lengan Shinichi sampai ia bangun, “Aku memang sering
bangun terlambat tapi tidak kusangka orang ini lebih hebat lagi, tidur di kelas
dan susah bangun,” gerutunya pelan pada diri sendiri. Di belakang pundak Hanae,
bibir Shinichi melengkung membentuk senyuman.
Sesampainya
mereka di kantin, terlihat segerombolan anak-anak kelasnya yang sedang duduk di
kantin dan menunggu mereka. “Hanae dan anak baru! Kami sudah menunggu kalian,
ayo duduk,” ujar Asako sambil menepuk-nepuk bangku di sampingnya. Hanae dan
Shinichi pun duduk.
“Wah,
aku penasaran apa yang ingin Himiko-sensei bicarakan! Di kelas sensei memang
sangat menyenangkan, tapi kali ini berbeda, dia meminta kita untuk berkumpul di
kantin di hari pertama masuk,” ujar Asako dengan cepat. Sambil memikirkannya,
Hanae menjawab, “Benar juga, apa karena Himiko-sensei ingin membahas mengenai itu?”
“Itu?
Itu apa?” Tanya Shinichi yang mendengarkan pembicaraan mereka. “Hee, kamu
Shinichi ya, perkenalkan dulu, namaku Nishimura Asako. Dan mengenai itu yang kami bahas adalah belakangan
ini ada satu dua anak remaja yang hilang, kemungkinan adalah penculikan tapi
penculik tidak meminta tebusan apapun! Jadi aku ragu kalau ini adalah sebuah
penculikan,” jelas Asako dengan bersemangat.
“Penculikan?”
Ucap Shinichi dengan alis terangkat sebelah.
“Masih
sebuah dugaan, dan sepertinya selalu terjadi ketika hujan. Oleh karena itu,
kami diminta untuk tidak kemana-mana sendirian,” jelas Hanae. Menurut Hanae,
memang sedikit aneh jika sebuah peculikan tidak menuntut uang tebusan. Namun
anak-anak yang diculikpun belum ada kabar sama sekali, mungkinkah sebuah
pembunuhan? Tapi apa motifnya? Hanae merinding dengan pemikirannya sendiri.
Shinichi
terlihat diam memikirkan masalah penculikan yang disebut oleh Asako, sedangkan
Asako terlihat menggebu-gebu menjelaskan teori-teori yang ia simpulkan sendiri.
Tidak berapa lama kemudian, Himiko-sensei datang dan meminta para murid untuk
berkumpul lebih dekat.
“Selamat
pagi, dan selamat sudah menjalani satu tahun pertama kalian sebagai murid SMA.
Mendebarkan sekali masa-masa SMA itu! Nikmatilah! Dan kebetulan, kita
kedatangan teman tambahan. Takahashi Shinichi, silahkan maju dan memperkenalkan
diri terlebih dahulu,” sambut Himiko-sensei dengan ceria seperti biasanya.
Shinichi
pun berdiri dari tempat duduknya dan menuju ke depan, di samping Himiko-sensei.
“Panggil saja Shinichi, mohon bantuannya” ujar Shinichi singkat sambil
membungkukkan badannya. Setelah memperkenalkan diripun, Shinichi dipersilahkan
untuk kembali duduk oleh Himiko-sensei.
“Wah,
perkenalanmu singkat sekali, Takahashi-kun. Tapi tidak apa, kalian masih
memiliki satu tahu- tidak. Dua tahun untuk saling mengenal satu sama lain.
Gunakan waktu kalian untuk belajar dan carilah pacar selama kalian masih di
bangku SMA!” Himiko-sensei terus memberikan ucapan-ucapan semangat sampai pada
akhirnya, “Himiko-sensei,” Asako mengangkat tangannya.
“Ya,
Nishimura-san?”
“Sensei,
apa yang sebenarnya ingin sensei sampaikan pada kami? Jarang-jarang sekali
sensei meminta kami untuk berkumpul di kantin pada hari pertama,” ujar Asako
bersemangat. Terdengar bisikan-bisikan setuju dari para murid lainnya. Himiko-sensei
menggaruk tengkuknya sambil tersenyum seperti seseorang yang baru saja ketahuan
berbohong. “Baiklah, kalian memang sangat cerdik. Jadi, seperti yang kalian
ketahui sendiri bahwa belakangan ini terjadi penculikan anak-anak remaja seusia
kalian, dan yang lebih parahnya tidak satupun dari dua kasus tersebut yang
terpecahkan hingga sekarang. Sensei hanya ingin agar kalian lebih berhati-hati
ketika pulang sekolah atau pergi kemanapun. Tolong usahakan agar kalian dapat
pergi kemanapun berdua atau bertiga.” Ujar Himiko-sensei dengan suara yang
berwibawa.
Suasanapun
berubah menjadi sedikit sunyi, sampai Suzuki mengangkat tangannya. “Ya,
Fukuda-san?” sahut Himiko-sensei. “Err, Sensei. Apa sensei mengetahui kira-kira
apa motif dari penculik? Aku dengar dari Asako kalau penculiknya tidak meminta
uang tebusan. Sedangkan polisi sama sekali tidak memiliki petunjuk mengenai
apapun. Kemudian yang membuatku bingung, apa yang menjadi dasar dari para
polisi untuk menyimpulkan bahwa kejadian ini adalah penculikan?” Suzuki memang
dapat menganilisis sesuatu dengan lebih mendalam dibanding anak seumurannya.
Mendengar
apa yang ditanyakan oleh Suzuki membuat Himiko-sensei terdiam. “Sebenarnya
sensei tidak mengetahui banyak mengenai penculikan itu, hanya saya dari apa yang
sensei ketahui mengenai “penculikan” itu memang tidak ada surat mengenai uang
tebusan maupun telepon untuk memintanya. Fukuda-san mungkin kau bisa jadi
seorang detektif jika sudah lulus nanti, instingmu untuk menganalisis lumayan
bagus,” ujar Himiko-sensei. Suzuki pun terlihat nyengir saja sedangkan Asako
memicingkan matanya ke arah Suzuki dengan jengkel.
Setelah
percakapan itu, anak-anak pun membagi berbagai teori mereka mengenai kasus
penculikan tersebut. Asako lah yang paling menggebu-gebu oleh berbagai
teorinya. Hanae hanya melihat teman-temannya sambil tersebut, melihat mereka
begitu bersemangat di hari pertama sekolah. Hanae berpikir bahwa Himiko-sensei
hanya mengangkat kasus ini untuk mencairkan suasana di hari pertama saja.
“Kurasa
Kacamata-Sensei hanya membahas ini untuk mencairkan suasana,” ujar Shinichi
sambil menopang dagunya dengan tangannya dan menghadapkan tubuhnya ke arah
Hanae. “Eh? Kau juga berpikir begitu? Tapi teman-teman terlihat sangat
antusias, jadi kurasa tidak apa,” Ujar Hanae sambil tersenyum simpul.
“Jika
sudah begini, bukannya lebih baik jika kita juga ngobrol? Kulihat kau hanya memperhatikan
teman-temanmu saja”
“Baiklah,
apa yang harus kita bicarakan?”
Sambil
berpura-pura berpikir, Shinichi mendadak meraih dagu Hanae, dan menariknya
mendekati wajah Shinichi. “Apa kau memakai kontak lensa?” Tanyanya polos sambil
melihat mata Hanae dekat-dekat. Dengan kecepatan super cepat, Hanae langsung
menangkis tangan Shinichi dan menjauhkan wajah mereka.
“Ka-kau
ini! Apa-apaan sih! Mengagetkanku saja, kau tidak harus menarikku seperti itu
jika hanya ingin menanyakan apa aku memakai kontak lensa,” ujar Hanae dengan
wajah merah padam. Hanae tidak pernah berkencan sebelumnya, tidak pernah ada seorangpun
yang mendekati Hanae. Shinichi tersenyum, seperti mengejek. Seolah Shinichi mengetahui bahwa
Hanae tidak pernah berkencan sebelumnya.
“Apa?
Apa yang kau lihat? Kau mengejekku ya?” Ujar Hanae secara tiba-tiba menaikkan
volume suaranya. Tanpa Hanae sadaripun, suaranya yang cukup besar itu membuat
teman-temannya kaget dan menoleh semua kepadanya. “Kurosawa-san, kau baik-baik
saja? Wajahmu memerah, apa kau sakit?” Tanya Himiko-sensei dengan wajah
khawatir. “Ada apa Hanae-chan? Kau ingin ngajak berantem murid baru? Atau kau
akhirnya diajak kencan oleh murid baru?” Goda anak-anak lain.
“Ehhh?
Ti-tidak! Tidak ada apa-apa, maaf.” Ujar Hanae dengan wajah tertunduk. Shinichi
yang berada disampingnya ikut menunduk dan berbisik, “Sudah kuduga, kau memang
tidak memakai kontak lensa,” Seketika Hanae merasa bahwa lelaki yang
disampingnya ini mempermainkannya.
Tidak
lama kemudian, Himiko-sensei meminta semua murid untuk pergi ke kelas dan
melanjutkan pelajaran pada jam kedua. Kelas pembukaan oleh Himiko-sensei memang
selalu menyenangkan dan membuat anak-anak mengenal satu sama lain lebih cepat dibanding
guru lainnya. Maka semuanya pun bangkit berdiri dan berjalan ke kelas sambil
berbincang-bincang satu sama lain. “Takahashi-san? Bisa kita bicara sebentar?”
ujar Himiko-sensei ketika Shinichi akan bangkit berdiri. “Baik, sensei.”
Hanae
melihat Shinichi dan Himiko-sensei berbincang dan ia pun berlalu. Setelah
sampai di kelas, Hanae melihat denah tempat duduk yang diberikan oleh
Himiko-sensei, tadi ia tidak sempat melihat karena diminta ke kantin oleh
Suzuki. “Wah, Hanae-chan, kamu duduk di baris belakang lagi sepertinya,” ujar
Asako sambil merangkul Hanae yang lebih tinggi darinya. “Asako, kamu…. Lebih baik
tidak perlu merangkulku. Kasihan kakimu tuh, harus berjinjit seperti itu,” Ujar
Hanae sambil menggoda Asako.
Asako
segera melepaskan rangkulannya dan memonyongkan bibirnya. “A-apa sih Hanae-chan!
Ah! Aku lihat tadi kamu seperti akan ciuman dengan Shi- Shi- Si murid pindahan
itu!” Balas Asako sambil berbicara cukup kencang. Anak-anak yang lain pun heboh
dan menyoraki Hanae dengan Shinichi. Padahal, Shinichi tidak ada di dalam kelas
saat itu. “Asako! Kamu jangan mengada-ada! Aku tidak berciuman dengan
Takahashi-kun!” ujar Hanae membela diri.
Untung
saja Takahashi-kun sedang tidak ada di kelas, aku akan lebih malu lagi jika ada
dia. Pikir Hanae dengan perasaan sedikit lega. Kemudian, Hanae segera menuju
tempat duduknya di baris kedua paling belakang. Hanae berpikir siapa yang akan
duduk dekat dengannya pada satu semester kedepan.